Senin, 08 Oktober 2012






PERCOBAAN III
PEMBUATAN GARAM MOHR

Selasa, 25 September 2012

I.  Tujuan
     Membuat garam mohr atau besi (II) ammonium sulfat (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
     Menentukan banyaknya air kristal dalam garam mohr hasil percobaan

II.  Dasar Teori
             Ada dua bijih besi yang terpenting yaitu : hemanit (Fe2O3) dan magnetit (Fe3O4) dan garam besi (II) yang terpenting adalah garam besi (II) sulfat yang dibuat dari pelarutan besi atau besi (II) sulfida dengan asam sulfat encer, setelah itu larutan disaring, lalu diuapkan dan mengkristal menjasi FeSO4.7H2O yang berwarna hijau. Dalam skala besar garam ini dibuat dengan cara mengoksidasi perlahan-lahan FeS oleh udara yang mengandung air.
            Garam-garam besi (II) atau fero diturunkan dari besi (II) oksida, FeO dalam larutan. Garam-garam ini mengandung kation Fe2+ dan bewarna sedikit hijau. Ion besi (II) dapat mudah dioksidasi menjadi besi (III), maka merupakan zat pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efeknya dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer akan mengoksidasi ion besi(II). Makalarutanbesi (II) harus sedikit asam bila ingin disimpan untuk waktu yang agak lama.
            Garam besi (II) sulfat dapat bergabung dengan garam-garam sulfat dari garam alkali, membentuk suatu garam rangkap dengan rumus umum yang dapat digambarkan sebagai M2Fe(SO)46H2O, dimana M merupakan symbol dari logam-logam, seperti K, Rb, Cs dan NH4. Rumus ini merupakan gabungan dua garam dengan anion yang sama atau identik yaitu M2SO4FeSO46H2O.
              Untuk garam rangkap dengan M adalah NH4 yang dibuat dengan jumlah mol besi (II) sulfat dan ammonium sulfatsama, maka hasil ini dikenal dengan garam mohr. Garam mohr dibuat dengan mencampurkan kedua garam sulfat dari besi (II) dan ammonium, dimana masing-masing garam dilarutkan sampai jenuh dan pada besi (II) ditambahkan sedikit asam. Pada saat pendinginan hasil campuran pada kedua garam di atas akan diperoleh Kristal bewarna hijau kebiru-biruan dengan bentuk monoklin. Garam mohr tidak lain adalah garam rangkap besi (II) ammonium sulfat dengan rumus molekul (NH4)2FeSO46H2O atau (NH4)2(SO4)26H2O.
           Garam mohr, besi ammonium sulfat, merupakan garam rangkap dari besi sulfat dan ammonium sulfat dengan rumus molekul [NH4]2[Fe][SO4]2.6H2O. Garam mohr lebih disukai dari pada besi (II) sulfat untuk proses titrasi karena garam mohr tidak mudah terpengaruh oleh oksigen bebas di udara / tidak mudah teroksidasi oleh udara bebas dibandingkan besi (II).
                 Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusun nya terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat cair membentuk Kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya biasa berupa Kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam padatannya “terpasang” pada kisi atau struktur kristal yang sama, tapi secara umum kebanyakan Kristal terbentuk secara simultan sehingga menghasilkan padatan polikristal. Struktur Kristal mana yang akan terbentuk dari suatu cairan tergantung pada kimia cairannya sendiri, kondisi ketika terjadi pemadatan dan tekanan ambien. Proses terbentuknya struktur kristalin dikenal sebagai kristalisasi.


III.  METODE PERCOBAAN

a.       Alat :
1.       Gelas piala
2.       Gelas ukur
3.       Neraca
b.      Bahan :
1.       Serbuk besi atau paku
2.       Asam sulfat 10%
3.       Ammonia pekat

c.       Cara Kerja :
1.       Larutan A



Larutan B 


2.       Larutan A dan B

















III.      HASIL & PEMBAHASAN
a.       Hasil Percobaan & Perhitungan
Ø Hasil percobaan
        1.  Larutan  A

No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
     Dilarutkan 3,5 gr besi dalam 100 ml H2SO4 10%, dipanaskan
   Larutan berubah dari warna abu-abu pudar menjadi abu-abu kebiruan
2.
Disaring larutan ketika masih panas
    Terdapat sisa besi yg belum melarut dan terpisah dari larutannya
3.
Ditambahkan asam sulfat pada filtrat
   Larutan berwarna biru kehijauan

      
        2.  Larutan B

  No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.
           Dinetralkan 50 ml H2SO4 10% dengan ammoniak
Diuapkan larutan

      Larutan bening ( sampai pH = 7)


3.  Larutan A dan B
  
No.
Langkah Kerja
Hasil Pengamatan
1.


2.


3.
      Dicampurkan larutan A dan B ketika masih panas.

     Dipisahkan larutan dengan endapan yang terbentuk dengan kertas saring

Di timbang kristal yang diperoleh
        Larutan berwarna hijau muda dengan endapan putih

       Terbentuk kristal-kristal garam

m = 22,85 gram
 Berat garam mohr yang di dapat dari percobaan sebesar : 22,85 gram 

Ø Perhitungan

Massa kertas saring (b)          = 0.80 gram
Massa hasil penyaringan (a)    = 22,85 gram
Massa garam Mohr                 = a-b
= 22,85 – 0.80 gram
= 22,05 gram

Massa besi (Fe)                      = 3,5 gram
BM Besi (Fe)                          = 55,85 gram/mol
BM garam Mohr                      = 392 gram/mol

                   Mol Fe =   mol garam Mohr     = massa Fe/ BM Fe
                                                                = 3,5 gram / 55,85 gram
                                                            = 0,0627 mol
Massa garam Mohr (teori)        = mol garam Mohr x BM garam Mohr
                                             = 0,0627 x 392
                                                                  = 24,58 gram


Kemurnian kristal                   = 
                                         
 = 10.29 %


b.      Pembahasan
Garam mohr merupakan garam rangkap yang terbentuk dari reaksi besi dengan asam sulfat dan larutan amoniak. Pada percobaan ini, senyawa-enyawa yang terkandung di dalam garam mohr ini antara lain : Logam besi (Logam transisi), larutan amoniak (NH3), dan asam sulfat pekat (H2SO4). Larutan amoniak disini berfungsi sebagai ligan yang mempunyai sebuah orbital yang berisi electron tak berpasangan untuk interaksinya dengan logam, bentuk komplek koordinasi yang klasik dengan logam. Pada percobaan ini, ada tiga langkah yang di lakukan, yaitu pembuatan larutan A dan B dan kemudian Larutan A dan B dicampur.
Pada percobaan ini pertama–tama dibuat larutan A dengan cara dilarutkan 3,5 gram besi ke dalam 100 ml H2SO4 10%, larutan berwarna abu-abu kehitaman dan endapan yang berupa besi akan melarut, dimana H2SO4 merupakan pelarut yang mengandung proton yang dapat diionkan dan bersifat asam kuat atau lemah. Dipanaskan larutan sampai hampir semua besi larut, sehingga larutan berubah menjadi abu-abu kebiruan, kemudian larutan disaring dengan menggunakan kartas saring ketika masih panas, ke dalam larutan tersebut ditambahkan sedikit (1-2 ml) asam sulfat pada filtrat dan menguapkan larutan sampai terbentuk kristal dipermukaan larutan.
Adapun tujuan dari penyaringan adalah untuk menghindari terbentuknya kristal pada suhu yang rendah dan tujuan dari pemanasan adalah adalah sebagai katalis yaitu untuk mempercepat terjadinya reaksi sehingga hampir semua besi dapat melarut. Larutan ini terus diuapkan dengan tujuan untuk mengurangi molekul air yang ada pada larutan. Larutan ini digunakan untuk menstabilkan kristal vitrol yang terbentuk. Percobaan ini manghasilkan garam besi (II) sulfat yang merupakan garam besi (II) yang terpenting. Garam-garam besi (II) atau fero diturunkan dari besi (II) oksida, FeO. Dalam larutan, garam-garam ini mengandung kation Fe2+ sehingga berwarna hijau dan Pembentukan FeSO4 dari logam Fe merupakan reaksi elektron berdasarkan prinsip termokimia. Reaksi yang terjadi yaitu:
Fe + H2SO4     FeSO4 + H2
Pembuatan larutan B yaitu pertama–tama dinetralkan 50 ml H2SO4 10% dengan amoniak, campuran tersebut berupa larutan jernih dan panas. Kemudian dilakukan pengukuran pH dengan menggunakan kertas lakmus maka dapat dikatahui bahwa pH larutan tersebut adalah netral 7 karena reaksi antara kedua reaktan merupakan reaksi netralisasi asam-basa dengan pH netral. Kemudian larutan ini diuapkan hingga jenuh sampai timbul endapan-endapan kristal. Reaksi yang terjadi yaitu:
2NH3 + H2SO4 → (NH4)2SO4
Pembentukan kristal garam mohr dilakukan dengan cara dicampurkan larutan A dan B ketika masih panas, atau pada keadaan yang sama, kondisi ini dipertahankan agar tidak terjadi pengkristalan larutan pada suhu yang rendah, maka akan dihasilkan larutan berwarna hijau muda dengan endapan putih. Untuk memperoleh kristal, dilakukan pendinginan beberapa hari sehingga terbentuk kristal yang lebih halus. Setelah didinginkan, larutan campuran tadi disaring sehingga diperoleh kristal garam mohr yang dimaksud. Kristal garam mohr ditimbang dengan neraca analitik didapatkan 22,85 gram. Dari data yang diperoleh, maka didapatkan pemurnian garam mohr adalah 10,22%. Bentuk kristal garam mohr adalah monoklin dengan warna hijau muda. Dalam senyawa kompleks Fe2+ berperan sebagai atom pusat dengan H2O sebagai ligannya. Adapun reaksi yang berlangsung yaitu :
FeSO4 + (NH4)2SO4 + 6H2O → (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O

IV. KESIMPULAN
1.  Garam mohr merupakan garam rangkap yang terbentuk dari reaksi besi dengan asam sulfat dan larutan amoniak dan mempunyai rumus molekul (NH4)2Fe(SO4)2. 6H2O
2.  Pembuatan garam mohr dilakukan dengan 3 cara yaitu pembuatan Larutan A dan B, dan pencampuran kedua larutan tersebut dan salah satunya diantara cara tersebut terdapat cara kristalisasi, yaitu melalui penguapan, dan didapatkan kristal berwarna hijau muda.
3.  Campuran besi (II) sulfat dengan larutan amonium sulfat akan menghasilkan suatu garam, yang sering disebut dengan garam mohr. Garam mohr stabil diudara dan larutannya tidak mudah dioksidasi oleh oksigen diatmosfer.


DAFTAR PUSTAKA
Cotton dan Wilkinson.1998.Kimia Anorganik Dasar.Jakarta: UI Press.
Iqbal Radetyo,dkk.2011.Modul Praktikum Kimia Anorganik I.Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah.
Sugiyarto,2003.Dasar-Dasar Kimia Anorganik Logam.Yogyakarta: UNY Press.
http://annisanfushie.wordpress.com ( diakses tanggal 02 oktober 2012)


LAMPIRAN
Pertanyaan :
1.       Apa tujuan penambahan asam sulfat pada filtrat?
2.       Apa fungsi dari garam mohr?
3.       Tulis semua persamaan reaksi yang terdapat pada percobaan ini?

Jawaban :
1.   Penambahan beberapa tetes asam sulfat  setelah penyaringan ditujukan agar larutan bersifat agak sedikit asam, karena dalam suasana netral atau basa, ion Fe2+ sangat mudah dioksidasi oleh oksigen dari udara menjadi ion Fe3+ yang mana akan mengganggu proses reaksi.

2.  Untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetri.
    > Sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik
    > Untuk meramalkan urutan daya mengoksidasi oksidator K2Cr2O7, KMnO4 dan KBrO3 (dengan konsentrasi yang sama ~ 0,1 N) terhadap ion Fe2+.

3.   > Fe(s) + H2SO4(aq) → FeSO4(aq) + H2 (g)                                        
      > 2NH4OH (aq) + H2SO4(aq) → (NH4)2SO4(aq) + 2H2O(l)
      > FeSO4(aq) + (NH4)2SO4(aq) + 6H2O(l) → (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O(s)

PERCOBAAN II
SIFAT KIMIA SENYAWA KLOR

Selasa, 2 Oktober 2012

I.  TUJUAN :
v  Mengetahui kelarutan dan stabilitas garam klorida
v  Mempelajari pembentukan kompleks logam transisi dengan ion klorida

II.    DASAR TEORI
Unsur-unsr halogen dapat diidentifikasi melalui warna dan sifatnya. Misalnya Cl : berupa gas kuning kehijauan pada suhu kamar, non-polar, kelarutan dalam air kecil dan larut dalam pelarut non-polar.
Semua halogen dapat mengoksidasi air menjadi gas Odan bukan merupakan oksidator kuat. Larutan halogen tidak stabil karena cenderung mengalami auto-oksidasi atau auto-reduksi, proses ini disebut dengan disporposional :

2 Cl2(aq) + 2 H2O(l) → HClO(aq) + 2HCl(aq)

Pada reaksi tersebut Clmengalami reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl). Ion ClO merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO berbeda dengan Clsebab asam hipoklorit, HclO adalah asam lemah dan ion ClO-  adalah basa yang cukup kuat.
Klor digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk sehari-hari. Klor digunakan unuk menghasilkan air minum yang aman hampir di seluruh dunia. Bahkan, kemasan air terkecil pun sudah terklorinasi.
Klor juga digunakan secara besar-besaran pada proses pembuatan kertas, zat pewarna, tekstil, produk olahan minyak bumi, obat-obatan, antiseptik, insektisida, makanan, pelarut, cat, plastik, dan banyak produk lainnya.
Ion kloridamembentuk endapan dengan ion-ion Ag+, Pb+, dan Hg+ berperan sebagai ligan dalam pembentukkan kompleks yang diamati melalui perubahan warna dan melarutnya endapan atau padatan.
Kebayakan klor diproduksi untuk digunakan dalam pembuatan senyawa klorin untuk sanitasi, pemutihan kertas, desinfektan, dan proses tekstil. Lebihjauh lagi, klor digunakan untuk pembuatan klorat, kloroform, karbon tetraklorida, dan ekstrasi brom.
Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl). Ion ClO- merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO- berbeda dengan Cl- sebab asam hipoklorit, HClO adalah asam lemah dan ion ClO- adalah basa yang cukup kuat, sedangkan Cl- mempunyai sifat netral dan merupakan basa konjugat dari HCl kuat. Ion klorida membentuk endapan dengan ion-ion Ag+, Pb+, dan Hg+, berperan sebagai ligan dalam pembentukan kompleks yang diamati melalui perubahan warna dan melarutnya endapan atau padatan.

III.  METODE PERCOBAAN
a.       Alat :
1.       Pipet tetes
2.       Rak tabung reaksi
3.       Gelas ukur
4.       Tabung reaksi

b.      Bahan :
1.       NaCl 0.1 M
2.       AgNO3 0.1 M
3.       NH3 6 M
4.       CuSO4 0.1 M
5.       Lakmus merah dan biru
6.       NaOCl 5%
7.       NaOH 6 M
8.       Ki 0.1 M
9.       KBr 0.1 M
10.   N-heksana atau petroleum eter
11.   HCl pekat

c.       Cara kerja:
1.       Ion Klorida (Cl-)
Ø  Kelarutan dan kestabilan garam klorida



Ø  Kompleks logam transisi dengan ion Cl 


2.       Ion Hipoklorit (ClO-)
 Ø  Reaksi lakmus


    Ø  Reaksi dengan AgNO3



     Ø  Daya oksidasi




IV.   HASIL & PEMBAHASAN
a.    Hasil Pengamatan
1.   Ion Klor ( Cl- )

Ø Kelarutan dan stabilitas garam klorida 
      
(i). NaCl + AgNO3 → AgCl ↓ + NaNO3

Reaksi yang terjadi: terbentuk endapan putih AgCl yang seperti dadih.Endapan tidak larut dalam air,tetapi larut dalam amonia encer dan dalam larutan – larutan kalium sianida dan tiosulfat.

(ii). Ditambahkan NH3 
AgCl    +   2NH3  →    [ Ag(NH3)2 ]+   +   Cl-
Reaksi yang terjadi: endapan tidak larut atau masih terdapat endapan putih

(iii). Ditambahkan HNO3 
Reaksi yang terjadi: terjadi perubahan suhu, yaitu keadaan eksoterm, timbul asap dan adanya amorf putih yang dengan cepat menghilang menjadi larut kembali. 

Ø Kompleks logam transisi dengan ion Cl-

(i). CuSO4 + 2HCl → CuCl2 + H2SO4
Reaksi yang terjadi: larutan berwarna hijau muda
       
(ii). Ditambahkan H2O 
Reaksi yang terjadi: larutan menjadi lebih encer sehingga berwarna hijau muda dan bening.  

(iii). AgNO3 + HCl → AgCl + HNO3  
Reaksi yang terjadi: terbentuk larutan berwarna bening yang akan berubah warna bila ditambahkan pelarut polar atau air.  

(iv). Reaksi (iii) ditambahkan H2O  
Reaksi yang terjadi: terbentuk endapan berwarna putih yang disertai dengan keadaan eksoterm sehingga keadaan sistem menjadi sedikit panas.
  
2.     Ion Hipoklorit (ClO-) 

Ø Lakmus 
 (i). NaClO + lakmus merah → warna lakmus menjadi biru
 (ii). NaClO + lakmus biru → warna lakmus tetap biru

Ø Reaksi dengan AgNO3 
 (i). 2NaOCl + 2AgNO3 → 2AgCl + 2NaNO3 + O2
 Reaksi yang terjadi: terbentuk endapan putih

(ii). 2HNO3 + NaOCl + AgNO3 → AgCl + NaNO3 + H2O
Reaksi yang terjadi: endapan putih yang dibentuk oleh AgCl menggumpal.

(iii). AgNO3 + NaOH       AgOH↓ + NaNO3 + H2O
Reaksi yang terjadi: endapan berwarna coklat muda agak keputihan.

(iv). Reaksi (iii) ditambahkan HNO3
Reaksi yang terjadi: larutan berwarna coklat terang dengan disertai panasClO-

Ø Daya oksidasi ion 
(i). KI + C6H12 + NaClO
Reaksi yang terjadi: terbentuk larutan berwarna kuning dengan disertai cincin larutan yang berwarna merah muda (pink).

(ii). KBr + C6H12 + NaClO
Reaksi yang terjadi: terbentuk larutan dengan 2 lapisan, yaitu berwarna bening dan lapisan cincin atas berwarna buram (samar).

(iii). (i) + HCl
Reaksi yang terjadi: terdapat 3 lapisan. Lapisan pertama berwarna coklat, kuning dan cincinnya   berwarna pink.

(iv). (ii)  + HCl
Reaksi yang terjadi: ada 2 lapisan pada larutan, yaitu lapisan berwarna kuning dan bening.


b.    Pembahasan
Pada praktikum kali ini, membahas tentang sifat-sifat  kimia senyawa klor, dimana bahan-bahan yang digunakan adalah NaCl, NaOCl dan HCl. Sifat dari senyawa klor diuji melalui 3 tahap percobaan, yaitu mengetahui sifat klorida dari ion Klorida (Cl- ) dan dari ion Hipoklorit(ClO-) serta dari Daya Oksidasi ion Hipoklorit(ClO-) tersebut .
                     
1.    Percobaan ion klorida (Cl-)
Dibedakan menjadi 2 bagian berdasarkan perbedaan bereaksinya klorida dengan senyawa lain.  Bagian pertama adalah kelarutan dan stabilitas garam klorida, dimulai dengan mereaksikan natrium klorida (NaCl) dengan perak nitrat(AgNO3) dan diperoleh endapan putih. Endapan putih ini merupakan endapan perak klorida.sesuai dari reaksinya
NaCl + AgNO3  ------->>>  AgCl(s)

Kemudian ditambahkan kedalam tabung reaksi yang sama larutan amonia (NH3), seharusnya reaksi ini menyebabkan endapan putih perlahan-lahan larut. Dimana, endapan perak klorida dapat larut karena pada saat penambahan larutan amonia dalam larutan dihasilkan ion kompleks diaminaargentat.
AgCl    +   2NH3   ------->>> [ Ag(NH3)2 ]+   +   Cl-

Kompleks [ Ag(NH3)2 ]+ ini merupakan filtrat dari penambahan larutan amonia (NH3) ke dalam endapan AgCl. Namun yang terjadi dalam praktikum ini justru tidak melarutnya AgCl. Perbedaan ini diduga akibat penggunan konsentrasi dari (NH3) sangatlah kecil sehingga tidak mampu untuk  melarutkan endapan yang terbentuk, tidak hanya itu mungkin diakibatkan karena terkontaminasi nya larutan amoniak tersebut atau alat yang dipakai. Sehingga terjadinya perbedaan antara teori dengan hasil percobaan.  Selanjutnya, Praktikan menambahkan asam nitrat (HNO3), maka yang terjadi adalah kesetimbangan pada reaksi penambahan larutan amonia akan kembali lagi, yaitu tetap terbentuknya endapan putih dari AgCl.
         
Bagian yang kedua yakni  pembentukan kompleks logam transisi dengan ion Cl-. Ion Cl- dapat membentuk kompleks logam transisi. Ion kompleks memiliki ion logam dengan jumlah tertentu molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilinginya. Asam adalah akseptor elektron molekul yang dapat menerima elektron dan basa adalah molekul yang memberikan elektron. Pencampuran CuSO4 dengan HCl terjadi perubahan warna menjadi warna hijau muda, dan setelah ditambahkan aquades warna menjadi biru kehijauan. Hal ini disebabkan karena CuSO4 sendiri dapat bereaksi dengan HCl membentuk asam sulfat dan tembaga diklorida sebagai hasil sampingnya. Asam sulfat inilah yang menyebabkan warna berubah menjad biru kehijauan. Reaksinya adalah :
CuSO4 + 2HCl → CuCl2 + H2SO4

Setelah ditambahkan kembali dengan aquadest (reaksi hidrolisis) warna berubah menjadi ke warna sebelumnya yaitu hijau bening. Hal ini disebabkan ketika asam sulfat dan tembaga diklorida ditambahkan dengan aquadest dapat membentuk tembaga sulfat kembali dengan asam klorida dan molekul air sebagai produk sampingnya. Sedangkan pencampuran Ag2SO4 dengan  HCl terbentuk endapan putih AgCl yang tidak larut dengan penambahan HCl.  Selanjutnya adalah pencampuran NaCl dengan Ag2SO4 terbentuk endapan putih AgCl. Setelah ditambahkan H2O endapan putih AgCl sedikit larut dengan penambahan H2O tersebut, tetapi tidak larut sempurna.

2.    Senyawa ion Hipoklorit (ClO- )
Pada percobaan ini menguji pengaruh NaOCl bila diteteskan ke kertas lakmus merah maupun biru. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa saat kertas lakmus biru dicelupkan ke dalam larutan natrium hipoklorit terjadi perubahan warna kertas lakmus menjadi biru, begitu pula saat kertas lakmus merah dicelupkan ke dalam larutan natrium hipoklorit terjadi perubahan warna menjadi warna biru. Hal ini menunjukkan bahwa natrium hipoklorit memiliki sifat yang basa. Percobaan berikutnya yaitu mereaksikan perak nitrat (AgNO3) dengan natrium hipoklorit dan dengan natrium hidroksida(NaOH). Seperti yang telah dibahas sebelumnya, reaksi antara natrium hipoklorit dengan perak nitrat menghasilkan endapan putih perak klorida (AgCl), setelah pembentukan endapan dilakukan penambahan asam nitrat(HNO3) yang terjadi adalah tidak adanya perubahan signifikan dari endapan tersebuut , karena endapan hanya berubah sedikt lebih menggumpal. Seharusnya endapan tersebut  melarut seiring ditambahkannya asam, perbedaan ini diduga akibat selain ion hipoklorit mampu sebagai zat pemutih , ion hipoklorit juga bersifat sebagai koagulan .Sehingga uji reaksi ini yang dihasilkan adalah gumpalan dari zat pengotor AgCl . Sementara untuk reaksi antara perak nitrat dengan natrium hidroksida menghasilkan endapan coklat muda keputih-putihan, endapan ini dihasilkan dari perak hidroksida.
AgNO3 + NaOH         AgOH↓ + NaNO3 + H2O

Kemudian ditambahkan dengan HNO3 sehingga menghasilkan larutan berwarna coklat terang dengan disertai panas ClO-.

3.    Daya Oksidasi Ion
pada percobaan ini mula-mula raktikan mereaksikan antara larutan kalium iodida(KI) dengan larutan heksana(C6H12) dan larutan Natrium Hipoklorit (NaOCl) dari reaksi ketiga larutan ini menghasilkan larutan yang heterogen karena terbentuk larutan berwarna kuning di bagian bawah dan cincin larutan yang berwarna merah muda (pink) di bagian atas.Tidak bercampurnya larutan ini akibat larutan KI yang tergolong polar dan larutan heksana yang non polar sehingga ketika keduanya direaksi kan tidak akan bisa menjadi larutan yang homogen. Kemudian praktikan menambahkan larutan tersebut dengan HCl, reaksi yang terjadi adalah terdapat 3 lapisan. Lapisan pertama berwarna coklat, kuning dan cincinnya   berwarna pink.
Percobaan kedua, Kemudian praktikan mereaksikan KBr + C6H12 + NaClO. Reaksi yang terjadi yaitu terbentuk larutan dengan 2 lapisan, yaitu berwarna bening dan lapisan cincin atas berwarna buram (samar). Kemudian praktikan menambahkan HCl kedalam larutan tersebut, reaksi yang terjadi: ada 2 lapisan pada larutan, yaitu lapisan berwarna kuning dan bening.

                                                                                                                                                                                          
V.  KESIMPULAN
  1. Pembentukan logam kompleks klor ditandai dengan perubahan warna.
  2. Natrium Hipoklorit (NaOCl) bersifat basa.
  3. Terbentuknya berbagai lapisan dalam larutan hasil reaksi disebabkan oleh perbedaan kepolaran, dan berat jenis tiap komponen larutan.

DAFTAR PUSTAKA
Chalid, Sri Yadial.2011.Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
Vogel bag-1.1985.Buku teks analisis anorganik kualitatif. Jakarta : PT. Kalman media pusaka
http://www.chem-is-try.org/ diakses pada tanggal 27 September 2012 pukul 20.21 WIB
http://www.scribd.com/doc/52577838/SIFAT-KIMIA-SENYAWA-KLOR

LAMPIRAN
Pertanyaan
1.   Tuliskan contoh-contoh senyawa klor dengan bilangan oksidasi Cl (-1, 0, +1, +3, +4, +5, +7) dan sebutkan kegunaannya (jika ada)!
2.   Bagaimana cara membuat larutan pemutih NaOCl secara komersial? Tuliskan reaksinya!
3.   Bagaimana caranya zat pemutih dapat membuat pakaian menjadi kelihatan lebih putih?

Jawaban :
1.
biloks
senyawa klor
Kegunaan
-1
NaCl
sebagai Bahan Tambahan Pangan
0
Cl2
untuk sanitasi, pemutihan kertas
1
NaOCl
Pemutih
5
NaOCl3
untuk membuat klorin dioksida
7
NaOCl4
sebagai campuran bom / peledak                    








2.  Larutan pemutih dapat dibuat dengan mereaksikan NaOH dengan gas klor (Cl2), gas klor dilewatkan kedalam larutan dingin NaOH encer pada suhu dibawah 40O C, jika suhu lebih dari 40O C maka akan terbentuk natrium klorat (NaClO3).
2NaOH + Cl2        NaCl + NaOCl + H2O

3.  Zat pemutih bekerja dengan dua cara, yaitu :
·   Mengubah molekul menjadi zat yang tidak mengandung kromofor atau masih mengandung kromofor yang tidak menyerap cahaya visible dengan cara memutuskan ikatan kimia kromofor oleh pemutih yang bersifat oksidator.
·  Mengubah ikatan rangkap pada kromofor menjadi ikatan tunggal oleh pemutih yang bersifat reduktor. Pemutusan ikatan rangkap ini dapat megurangi kemampuan kromofor untuk menyerap sinar visible.