Senin, 08 Oktober 2012

PERCOBAAN II
SIFAT KIMIA SENYAWA KLOR

Selasa, 2 Oktober 2012

I.  TUJUAN :
v  Mengetahui kelarutan dan stabilitas garam klorida
v  Mempelajari pembentukan kompleks logam transisi dengan ion klorida

II.    DASAR TEORI
Unsur-unsr halogen dapat diidentifikasi melalui warna dan sifatnya. Misalnya Cl : berupa gas kuning kehijauan pada suhu kamar, non-polar, kelarutan dalam air kecil dan larut dalam pelarut non-polar.
Semua halogen dapat mengoksidasi air menjadi gas Odan bukan merupakan oksidator kuat. Larutan halogen tidak stabil karena cenderung mengalami auto-oksidasi atau auto-reduksi, proses ini disebut dengan disporposional :

2 Cl2(aq) + 2 H2O(l) → HClO(aq) + 2HCl(aq)

Pada reaksi tersebut Clmengalami reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl). Ion ClO merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO berbeda dengan Clsebab asam hipoklorit, HclO adalah asam lemah dan ion ClO-  adalah basa yang cukup kuat.
Klor digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk sehari-hari. Klor digunakan unuk menghasilkan air minum yang aman hampir di seluruh dunia. Bahkan, kemasan air terkecil pun sudah terklorinasi.
Klor juga digunakan secara besar-besaran pada proses pembuatan kertas, zat pewarna, tekstil, produk olahan minyak bumi, obat-obatan, antiseptik, insektisida, makanan, pelarut, cat, plastik, dan banyak produk lainnya.
Ion kloridamembentuk endapan dengan ion-ion Ag+, Pb+, dan Hg+ berperan sebagai ligan dalam pembentukkan kompleks yang diamati melalui perubahan warna dan melarutnya endapan atau padatan.
Kebayakan klor diproduksi untuk digunakan dalam pembuatan senyawa klorin untuk sanitasi, pemutihan kertas, desinfektan, dan proses tekstil. Lebihjauh lagi, klor digunakan untuk pembuatan klorat, kloroform, karbon tetraklorida, dan ekstrasi brom.
Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl). Ion ClO- merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO- berbeda dengan Cl- sebab asam hipoklorit, HClO adalah asam lemah dan ion ClO- adalah basa yang cukup kuat, sedangkan Cl- mempunyai sifat netral dan merupakan basa konjugat dari HCl kuat. Ion klorida membentuk endapan dengan ion-ion Ag+, Pb+, dan Hg+, berperan sebagai ligan dalam pembentukan kompleks yang diamati melalui perubahan warna dan melarutnya endapan atau padatan.

III.  METODE PERCOBAAN
a.       Alat :
1.       Pipet tetes
2.       Rak tabung reaksi
3.       Gelas ukur
4.       Tabung reaksi

b.      Bahan :
1.       NaCl 0.1 M
2.       AgNO3 0.1 M
3.       NH3 6 M
4.       CuSO4 0.1 M
5.       Lakmus merah dan biru
6.       NaOCl 5%
7.       NaOH 6 M
8.       Ki 0.1 M
9.       KBr 0.1 M
10.   N-heksana atau petroleum eter
11.   HCl pekat

c.       Cara kerja:
1.       Ion Klorida (Cl-)
Ø  Kelarutan dan kestabilan garam klorida



Ø  Kompleks logam transisi dengan ion Cl 


2.       Ion Hipoklorit (ClO-)
 Ø  Reaksi lakmus


    Ø  Reaksi dengan AgNO3



     Ø  Daya oksidasi




IV.   HASIL & PEMBAHASAN
a.    Hasil Pengamatan
1.   Ion Klor ( Cl- )

Ø Kelarutan dan stabilitas garam klorida 
      
(i). NaCl + AgNO3 → AgCl ↓ + NaNO3

Reaksi yang terjadi: terbentuk endapan putih AgCl yang seperti dadih.Endapan tidak larut dalam air,tetapi larut dalam amonia encer dan dalam larutan – larutan kalium sianida dan tiosulfat.

(ii). Ditambahkan NH3 
AgCl    +   2NH3  →    [ Ag(NH3)2 ]+   +   Cl-
Reaksi yang terjadi: endapan tidak larut atau masih terdapat endapan putih

(iii). Ditambahkan HNO3 
Reaksi yang terjadi: terjadi perubahan suhu, yaitu keadaan eksoterm, timbul asap dan adanya amorf putih yang dengan cepat menghilang menjadi larut kembali. 

Ø Kompleks logam transisi dengan ion Cl-

(i). CuSO4 + 2HCl → CuCl2 + H2SO4
Reaksi yang terjadi: larutan berwarna hijau muda
       
(ii). Ditambahkan H2O 
Reaksi yang terjadi: larutan menjadi lebih encer sehingga berwarna hijau muda dan bening.  

(iii). AgNO3 + HCl → AgCl + HNO3  
Reaksi yang terjadi: terbentuk larutan berwarna bening yang akan berubah warna bila ditambahkan pelarut polar atau air.  

(iv). Reaksi (iii) ditambahkan H2O  
Reaksi yang terjadi: terbentuk endapan berwarna putih yang disertai dengan keadaan eksoterm sehingga keadaan sistem menjadi sedikit panas.
  
2.     Ion Hipoklorit (ClO-) 

Ø Lakmus 
 (i). NaClO + lakmus merah → warna lakmus menjadi biru
 (ii). NaClO + lakmus biru → warna lakmus tetap biru

Ø Reaksi dengan AgNO3 
 (i). 2NaOCl + 2AgNO3 → 2AgCl + 2NaNO3 + O2
 Reaksi yang terjadi: terbentuk endapan putih

(ii). 2HNO3 + NaOCl + AgNO3 → AgCl + NaNO3 + H2O
Reaksi yang terjadi: endapan putih yang dibentuk oleh AgCl menggumpal.

(iii). AgNO3 + NaOH       AgOH↓ + NaNO3 + H2O
Reaksi yang terjadi: endapan berwarna coklat muda agak keputihan.

(iv). Reaksi (iii) ditambahkan HNO3
Reaksi yang terjadi: larutan berwarna coklat terang dengan disertai panasClO-

Ø Daya oksidasi ion 
(i). KI + C6H12 + NaClO
Reaksi yang terjadi: terbentuk larutan berwarna kuning dengan disertai cincin larutan yang berwarna merah muda (pink).

(ii). KBr + C6H12 + NaClO
Reaksi yang terjadi: terbentuk larutan dengan 2 lapisan, yaitu berwarna bening dan lapisan cincin atas berwarna buram (samar).

(iii). (i) + HCl
Reaksi yang terjadi: terdapat 3 lapisan. Lapisan pertama berwarna coklat, kuning dan cincinnya   berwarna pink.

(iv). (ii)  + HCl
Reaksi yang terjadi: ada 2 lapisan pada larutan, yaitu lapisan berwarna kuning dan bening.


b.    Pembahasan
Pada praktikum kali ini, membahas tentang sifat-sifat  kimia senyawa klor, dimana bahan-bahan yang digunakan adalah NaCl, NaOCl dan HCl. Sifat dari senyawa klor diuji melalui 3 tahap percobaan, yaitu mengetahui sifat klorida dari ion Klorida (Cl- ) dan dari ion Hipoklorit(ClO-) serta dari Daya Oksidasi ion Hipoklorit(ClO-) tersebut .
                     
1.    Percobaan ion klorida (Cl-)
Dibedakan menjadi 2 bagian berdasarkan perbedaan bereaksinya klorida dengan senyawa lain.  Bagian pertama adalah kelarutan dan stabilitas garam klorida, dimulai dengan mereaksikan natrium klorida (NaCl) dengan perak nitrat(AgNO3) dan diperoleh endapan putih. Endapan putih ini merupakan endapan perak klorida.sesuai dari reaksinya
NaCl + AgNO3  ------->>>  AgCl(s)

Kemudian ditambahkan kedalam tabung reaksi yang sama larutan amonia (NH3), seharusnya reaksi ini menyebabkan endapan putih perlahan-lahan larut. Dimana, endapan perak klorida dapat larut karena pada saat penambahan larutan amonia dalam larutan dihasilkan ion kompleks diaminaargentat.
AgCl    +   2NH3   ------->>> [ Ag(NH3)2 ]+   +   Cl-

Kompleks [ Ag(NH3)2 ]+ ini merupakan filtrat dari penambahan larutan amonia (NH3) ke dalam endapan AgCl. Namun yang terjadi dalam praktikum ini justru tidak melarutnya AgCl. Perbedaan ini diduga akibat penggunan konsentrasi dari (NH3) sangatlah kecil sehingga tidak mampu untuk  melarutkan endapan yang terbentuk, tidak hanya itu mungkin diakibatkan karena terkontaminasi nya larutan amoniak tersebut atau alat yang dipakai. Sehingga terjadinya perbedaan antara teori dengan hasil percobaan.  Selanjutnya, Praktikan menambahkan asam nitrat (HNO3), maka yang terjadi adalah kesetimbangan pada reaksi penambahan larutan amonia akan kembali lagi, yaitu tetap terbentuknya endapan putih dari AgCl.
         
Bagian yang kedua yakni  pembentukan kompleks logam transisi dengan ion Cl-. Ion Cl- dapat membentuk kompleks logam transisi. Ion kompleks memiliki ion logam dengan jumlah tertentu molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilinginya. Asam adalah akseptor elektron molekul yang dapat menerima elektron dan basa adalah molekul yang memberikan elektron. Pencampuran CuSO4 dengan HCl terjadi perubahan warna menjadi warna hijau muda, dan setelah ditambahkan aquades warna menjadi biru kehijauan. Hal ini disebabkan karena CuSO4 sendiri dapat bereaksi dengan HCl membentuk asam sulfat dan tembaga diklorida sebagai hasil sampingnya. Asam sulfat inilah yang menyebabkan warna berubah menjad biru kehijauan. Reaksinya adalah :
CuSO4 + 2HCl → CuCl2 + H2SO4

Setelah ditambahkan kembali dengan aquadest (reaksi hidrolisis) warna berubah menjadi ke warna sebelumnya yaitu hijau bening. Hal ini disebabkan ketika asam sulfat dan tembaga diklorida ditambahkan dengan aquadest dapat membentuk tembaga sulfat kembali dengan asam klorida dan molekul air sebagai produk sampingnya. Sedangkan pencampuran Ag2SO4 dengan  HCl terbentuk endapan putih AgCl yang tidak larut dengan penambahan HCl.  Selanjutnya adalah pencampuran NaCl dengan Ag2SO4 terbentuk endapan putih AgCl. Setelah ditambahkan H2O endapan putih AgCl sedikit larut dengan penambahan H2O tersebut, tetapi tidak larut sempurna.

2.    Senyawa ion Hipoklorit (ClO- )
Pada percobaan ini menguji pengaruh NaOCl bila diteteskan ke kertas lakmus merah maupun biru. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa saat kertas lakmus biru dicelupkan ke dalam larutan natrium hipoklorit terjadi perubahan warna kertas lakmus menjadi biru, begitu pula saat kertas lakmus merah dicelupkan ke dalam larutan natrium hipoklorit terjadi perubahan warna menjadi warna biru. Hal ini menunjukkan bahwa natrium hipoklorit memiliki sifat yang basa. Percobaan berikutnya yaitu mereaksikan perak nitrat (AgNO3) dengan natrium hipoklorit dan dengan natrium hidroksida(NaOH). Seperti yang telah dibahas sebelumnya, reaksi antara natrium hipoklorit dengan perak nitrat menghasilkan endapan putih perak klorida (AgCl), setelah pembentukan endapan dilakukan penambahan asam nitrat(HNO3) yang terjadi adalah tidak adanya perubahan signifikan dari endapan tersebuut , karena endapan hanya berubah sedikt lebih menggumpal. Seharusnya endapan tersebut  melarut seiring ditambahkannya asam, perbedaan ini diduga akibat selain ion hipoklorit mampu sebagai zat pemutih , ion hipoklorit juga bersifat sebagai koagulan .Sehingga uji reaksi ini yang dihasilkan adalah gumpalan dari zat pengotor AgCl . Sementara untuk reaksi antara perak nitrat dengan natrium hidroksida menghasilkan endapan coklat muda keputih-putihan, endapan ini dihasilkan dari perak hidroksida.
AgNO3 + NaOH         AgOH↓ + NaNO3 + H2O

Kemudian ditambahkan dengan HNO3 sehingga menghasilkan larutan berwarna coklat terang dengan disertai panas ClO-.

3.    Daya Oksidasi Ion
pada percobaan ini mula-mula raktikan mereaksikan antara larutan kalium iodida(KI) dengan larutan heksana(C6H12) dan larutan Natrium Hipoklorit (NaOCl) dari reaksi ketiga larutan ini menghasilkan larutan yang heterogen karena terbentuk larutan berwarna kuning di bagian bawah dan cincin larutan yang berwarna merah muda (pink) di bagian atas.Tidak bercampurnya larutan ini akibat larutan KI yang tergolong polar dan larutan heksana yang non polar sehingga ketika keduanya direaksi kan tidak akan bisa menjadi larutan yang homogen. Kemudian praktikan menambahkan larutan tersebut dengan HCl, reaksi yang terjadi adalah terdapat 3 lapisan. Lapisan pertama berwarna coklat, kuning dan cincinnya   berwarna pink.
Percobaan kedua, Kemudian praktikan mereaksikan KBr + C6H12 + NaClO. Reaksi yang terjadi yaitu terbentuk larutan dengan 2 lapisan, yaitu berwarna bening dan lapisan cincin atas berwarna buram (samar). Kemudian praktikan menambahkan HCl kedalam larutan tersebut, reaksi yang terjadi: ada 2 lapisan pada larutan, yaitu lapisan berwarna kuning dan bening.

                                                                                                                                                                                          
V.  KESIMPULAN
  1. Pembentukan logam kompleks klor ditandai dengan perubahan warna.
  2. Natrium Hipoklorit (NaOCl) bersifat basa.
  3. Terbentuknya berbagai lapisan dalam larutan hasil reaksi disebabkan oleh perbedaan kepolaran, dan berat jenis tiap komponen larutan.

DAFTAR PUSTAKA
Chalid, Sri Yadial.2011.Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Jakarta : UIN Syarif Hidayatullah
Vogel bag-1.1985.Buku teks analisis anorganik kualitatif. Jakarta : PT. Kalman media pusaka
http://www.chem-is-try.org/ diakses pada tanggal 27 September 2012 pukul 20.21 WIB
http://www.scribd.com/doc/52577838/SIFAT-KIMIA-SENYAWA-KLOR

LAMPIRAN
Pertanyaan
1.   Tuliskan contoh-contoh senyawa klor dengan bilangan oksidasi Cl (-1, 0, +1, +3, +4, +5, +7) dan sebutkan kegunaannya (jika ada)!
2.   Bagaimana cara membuat larutan pemutih NaOCl secara komersial? Tuliskan reaksinya!
3.   Bagaimana caranya zat pemutih dapat membuat pakaian menjadi kelihatan lebih putih?

Jawaban :
1.
biloks
senyawa klor
Kegunaan
-1
NaCl
sebagai Bahan Tambahan Pangan
0
Cl2
untuk sanitasi, pemutihan kertas
1
NaOCl
Pemutih
5
NaOCl3
untuk membuat klorin dioksida
7
NaOCl4
sebagai campuran bom / peledak                    








2.  Larutan pemutih dapat dibuat dengan mereaksikan NaOH dengan gas klor (Cl2), gas klor dilewatkan kedalam larutan dingin NaOH encer pada suhu dibawah 40O C, jika suhu lebih dari 40O C maka akan terbentuk natrium klorat (NaClO3).
2NaOH + Cl2        NaCl + NaOCl + H2O

3.  Zat pemutih bekerja dengan dua cara, yaitu :
·   Mengubah molekul menjadi zat yang tidak mengandung kromofor atau masih mengandung kromofor yang tidak menyerap cahaya visible dengan cara memutuskan ikatan kimia kromofor oleh pemutih yang bersifat oksidator.
·  Mengubah ikatan rangkap pada kromofor menjadi ikatan tunggal oleh pemutih yang bersifat reduktor. Pemutusan ikatan rangkap ini dapat megurangi kemampuan kromofor untuk menyerap sinar visible.

Minggu, 23 September 2012

Proses Pengolahan Limbah Cair



Pengolahan limbah bertujuan mempercepat proses alami pada suatu unit pengolah limbah sehingga kondisi dapat terkontrol. Proses ini  brfungsi untuk mengurangi atau menghilangkan bahan-bahan polutan dalam limbah. Sesuai dengan karakteristiknya, pengolahan limbah dapat diklasifikasikan sebagai pengolahan secara fisik, kimia dan biologi, sedangkan unit pengolahannya juga dikelompokan sebagai unit pengolahan fisika, kimia dan biologi. Pada umumnya limbah mempunyai karakteristik yang merupakan gabungan antara ketiga karakteristik tersebut, sehingga pengolahannya juga melibatkan gabungan antara cara-cara pengolahan fisika, kimia dan biologi.
Ditinjau dari tingkatannya, pengolahan limbah dapat dikelompokan menjadi primer, sekunder dan tersier. Pengolahan primer (Primary Treatment) ditujukan untuk menghilangkan bahan – bahan yang tampak, yang umumnya termasuk karakteristik fisika. Tahap ini juga diperlukan   sebagai tahap persiapan untuk menuju pada pengolahan tahap berikutnya. Unit pengolah limbah secara fisika, misalnya screaning, grift, removal, sedimentasi, pemisah minyak/lemak.
Pengolahan sekunder (Secondary treatment) pada umumnya ditujukan untuk menghilangkan bahan – bahan organik terlarut. Unit pengolah limbah yang dipakai pada tahap ini adalah yang berdasarkan  proses biologi, misalnya kolam lumpur aktif (Activated sludge), trickling filter, kolam oksidasi (Oxidation pond).

Pengolahan tersier (Tertiary / Advanced Treatment) ditujukan untuk menghilangkan bahan yang sifatnya spesifik untuk limbah tertentu. Unit pengolah yang dipakai pada tahap ini bekerja secara fisika, kimia, dan biologi, misalnya ion exchange, desinfeksi (klorinasi) reverse osmosis, dan nitrifikasi.
Pada kenyataannya pengolahan limbah tidak selalu melibatkan ketiga tahapan proses tersebut, keadaan mana akan tergantung pada beberapa hal seperti karakteristik limbah, sifat akhir kualitas effluent (sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan), sistem pembuangan akhir (tanah, sungai dan lain – lain), pemanfaatan kembali.
 

Beberapa unit fisika dan fungsinya dalam pengolahan limbah yang biasa dipergunakan, dapat dilihat sebagai berikut :
1
Screening
: Memisahkan kotoran / padatan dengan ukuran besar
2
Communication
: Pemecahan padatan berukuran besar untuk mendapatkan ukuran yang           uniform.

3
Ekualisasi
: Ekualisasi aliran dan beban BOD
4
Pencampuran
: Pencampuran bahan – bahan kimia dan gas – gas dengan limbah,  mempertahankan padatan selalu dalam bentuk suspensi.
5
Flokulasi
: Pembentukan gumpalan padatan (dengan menambahkan bahan kimia ) sehingga padatan mudah dipisahkan
6
Sedimentasi
: Pemisahan padatan yang dapat terendapkan dan memperketat sludge
7
Flotasi
: Pemisahan padatan yang berukuran sangat kecil dan memperketat biological sludge
8
Filtrasi
: Pemisahan padatan yang berukuran kecil setelah proses biologi atau kimia
9
Microscreening
: Sama seperti filtrasi, untuk bahan yang ukurannya lebih kecil.
(Sumber : Syamsiah.S, 1995)

Kegiatan di atas dalam prakteknya tidak semua dipergunakan karena disesuaikan dengan kebutuhannya. Secara garis besar, kerja alat dapat dijelaskan sebagai berikut.
  1. Screening – Dapat berupa paraller bars, wire mesh atau perforated plates. Lubang dapat berbentuk bundar atau persegi dengan ukuran yang bervariasi. Screening dapat dioperasikan secara manual maupun mekanis.
  2. Ekualisasi.-Digunakan untuk menghindari terjadinya masalah – masalah operasi pada downstream karena adanya variasi / fluktuasi aliran. Hal ini pada umumnya dilakukan dengan menampung limbah dalam suatu bak ekualisasi sebelum dimasukan ke unit pengolah limbah selanjutnya.
  3. Sedimentasi – Adalah pemisahan partikel-partikel yang lebih berat dari air, dengan prinsip gravitasi. Sedimentasi merupakan satu unit yang banyak dipakai pada pengolahan limbah cair. Tujuan utama dari penggunaan unit ini adalah untuk menghasilkan cairan clarified dan juga mendapatkan konsentrasi padatan yang mudah dikelola.
  4. Flotasi – Digunakan untuk memisahkan partikel padatan /cairan dari fase cairan. Pemisahan dilakukan dengan cara mengalirkan gas (udara) ke dalam cairan. Gelembung – gelembung gas akan berikatan dengan partikel yang ingin dipisahkan sehingga naik ke  permukaan cairan. Partikel  yang terkumpul dalam dipermukaan kemudian dapat dengan mudah dipisahkan. Prinsip ini dapat dipakai  untuk partikel yang mempunyai densitas lebih tinggi maupun lebih rendah dari pada densitas air.
  5. Bak Septik – Pada dasarnya kerja bak septik sama dengan prinsip kerja   sedimentasi. Perbedaannya adalah bahwa pada bak septik, selain proses  fisika terjadi juga proses biologi secara an-aerob.



Pengelolaan Limbah Bahan Beracun Dan Berbahaya
Oleh :
Frequencia sukmana firdauz
Pengolahan limbah B3 ( bahan beracun dan berbahaya) ditetapkan berdasakan
Peraturan pemerintah (PP) No. 19 tahun 1994 yang kemudian diperbaharui dengan
PP No. 12 tahun  1995 dan diperbaharui kembali dengan PP No. 18 tahun 1999 pada tanggal 27 februari 1999
Dan kemuadian dikuatkan melalui peraturan pemerintah no 74 tahun 2001 pada tanggal 26 november 2001 tentang pengelolaaan limbah B3
Berdasarkan PP No. 18 tahun 1999, yang dimaksutkan dengan limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secar alangsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup dan atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lain.
Jogjakarta sebagai salah satu kota besar yang ada diindonesia, sudah barang tentu pasti memiliki berbagai permasalahan dan probelematika yang ada, salah satunya adalah terkait pengolahan limbang bahan beracun dan berbahaya (B3), bahkan menurut salah satu media cetak yang ada dijogjakarta disebutkan bahwa, Jogjakarta menghasilkan 4 ton limbah bahan beracun dan berbahaya perharinya. Dan dengan kata lain dalam sebulan saja, Jogjakarta menghasilkan 120an ton limbah bahan beracun dan berbahaya. Dan jumlah ini akan terus bertambah seiriing dengan semakin bertambahnya perusahan perusahaan baik itu rumaahn ataupun perusahaan bersekala besar yang menghasilkan limbah B3.
Menurut kepala badan lingkungan hidup (BLH) DIY, Drajad  Ruswandono” sedikitnya terdapat 451 perusahaan atau lembaga di DIY yang menghasilkan limbah B3, baik itu padat maupun cair”. Limbah ini dihasilkan dari hamper seluruh jenis usaha, baik itu percetakanm tekstil, industry kulit, logam maupun rumah sakit, dna hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa Jogjakarta sebagai salah satu kota besar yang ada di Indonesia belum memiliki instalasi pengolahan limbah B3, sehingga secara berkala Jogjakarta harus mengirim sebagian limbah limbah B3 padat tersebut ke daerah bogor, jawa barat untuk diolah dan untuk limbah cair B3, sampai detik ini masih sulit teridentifikasi jumlahnya, dan ini berpeluang untuk dibuan begitusaja di lingkungan. Dan oleh karena itu maka, perlu adalanya instalasi pengelolaan limbah B3, dimana tujuan pengelolaan limbah B3 berdasarkan Berdasarkan PP No. 18 tahun 1999 adalah untuk mencegah dan menangulangi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh limbah B3, serta melakukan pemulihan kualitas lingkungan yang sudah tercemar sehingga sesuai dengan fungsinya kembali.
Indentifikasi limbah Berdasarkan PP No. 18 tahun 1999 adalah pengidentifikasian limbah B3 digolongkan ke dalam 2 (dua) kategori yaitu:

1. Berdasarkan sumber
Golongan limbah B3 yang berdasarkan sumber kemudian dibagi menjadi, limbah B3 dari sumber spesifik, limbah B3 dari sumber tidak spesifik dan llimbah b# dari bahan kimia kadarluarsa, tumpahan, bekas kemasan dan buangan produk yang tidak memenuhi spesifikasi.

2. Berdasarkan karakteristik
Untuk golongan limbah B3 yang berdasarkan karakteristik ditentukan bebrapa indicator yaitu mudah meledak, pengoksidasi, sangat mudah sekali menyala, sangat mudah menyala, mudah menyala, amat sangat beracun  sangat beracun, beracun, berbahaya, korosif, bersifat iritasi, berbahaya bagi lingkungan, karsinogenik, teratogenik, mutagenic.
Hal ini menunjukkan bahwa ternyata pemerintah memberikan sebuah perhatian khusus terhadap pengelolaan lingkungan Indonesia, hanya memang.. dalam ralitasnya implementasi terhadap peraturan yang dibuat. Masih kurang mengena, dan belum dijalankan dengan sunguh sungguh.
Mengingat sangat pentingnnya pengolahan limbah B3, baik itu untuk Jogjakarta dan daerh daerah lainnya yang ada di Indonesia maka perlu mengetahui terkait syarat pengolahan limbah B3. Terkait, pemilihan lokasi, fasilitas pengolahan, penanganan limbah B3 sebelum diolah, pengolahan limbah B3 dan hasil pengolahan limbah B3

1. Lokasi pengolahan.
Pengelolaan limbah B3 dapat dilakukan didalam lokasi penghasil limbah atau diluar lokasi penghasil limbah, asalkan memenuhi persayaratan yang ada. Untuk syarat lokasi pengolahan yang ada di dalam area penghasil limbah B3 harus berada pada daerah yang bebas danjir dan jarak antara instalasi pengolahan dengan fasilitas umum minimum 50 meter. Sedangkan untuk syarat lokasi pengolahan limbah B3 diluar area penghasil limbah B3 adalah lokasi instalasi pengolahan berada pada daerah yang bebas banjir, jarak antara lokasi instalasi pengolahan dan jalan utama minimal 150 meter atau 50 meter untuk jalan lainnya, jarak antara instalais pengolahan dan daerah yang beraktivitas penduduk dan aktivitas umum minimum 300 meter, serta jarak antara instalasi pengolahan dengan wilayah terlindung ( misalnya cagar alam, hutan lindung) minimum 300 m.

2. Fasilitas pengolahan
Fasislitas pengolahan limbah B3 harus menerapkan system oprasional meliputi, system keamanan fasislitas, siste pencegahan terhadap kebakaran, seistem penanggulangan keadaan darurat, system pengujian peralatan dan tentunya pelatihan karyawan. Untuk keseluruhan system  tersebut harus terintegrasi dan menjaid bagian yang tidak terpisahkan dalam pengolahan limbah B3, mengingat jenis limbah yang ditangani adalah limbah yang dakan volume kecil sekalipun akan dapat berdampak besar bagi lingkungan.

3. Penanganan limbah B3 sebelum diolah
Sebelum mengalami pengolahan limbah B3 harus terlebih dahulu diidentifikasi dan dilakukan uji analisis terhdap kandungannya, hal ini guna menetapkan prosedur yang tepat dalam pengolahan limbah B3 dan juga dengan adanya identifikasi ini maka akan dapat ditentukan metode yang tepat terhadap karakteristik dan kandungan limbah B3.

4. Pengolahan limbah B3
Jenis perlakuan terhadap limbah B3 tergantung dari karakteristik dan kandngan limbah. Perlakuan limbah B3 untuk pengolahan  dapat dilakukan dengan berbagai macam proses

  • Proses kimia, meliputi redoks, elektrolisa, netralisasi, pengendapan, stabilisasi, adsorpsi, penukaran ion dan pirolisa.
  • Proses secara fisika, meliputi : pembersihan gas, pemisahan cairan dan penyisihan komponen komponen spesifik dengan metoda kristalisasi, dialisa, osmotic balik dll.
  • Proses stabilisasi/solidifikasi dengan tujuan untuk mengurangi potensi racun dan kandungan limbah B3 dengan cara membatasi daya larut, penyebaran dan daya racun sebelum limbah dibuang ketempat penimbunan akhir.
  • Proses insinerasi yaitu dengan cara melakukan pembakaran materi limbah menggunakan alat khusus incinerator dengan efisiensi pembakara harus mencapai 99,99% atau lebih. Artinya , jika suatu materi limbah B3 ingin di insinerirasi dengan berat 100 kg, maka abu sisa dari proses insinerirasi tidak boleh lebih dari 0,01 kg.

5. Hasil pengolahan limbah B3
Setelah dilakukan pengolahan, sudha barnag tentu kita akan mendapatkan hasil dari pengolahan dan hasil daro pengolahan ini harus ditaruh pada tempat khusus dan dilakukan pemantauan di area tempat pembuangan akhir tersebut dengan jangka waktu 30 tahun setelah pembuangan akhr habis masa pakainya ( ditutup)
#UNTUK KESELURUHAN PROSES PENGELOLAAN, TERMASUK PENGHASIL LIMBAH B3 HARUS MELAPORKAN AKTIVITASNYA KE KLH ( KEMENTRIAN LINGKUNGAN HIDUP) DENGAN PERIODE TRIWULAN ( TIAP 3 BULAN SEKALI)